Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obyek Wisata. Tampilkan semua postingan

Tempat Hiburan Malam

>> Jumat, November 07, 2008

Sebagai wilayah penghubung di Asia Tenggara, Jakarta memiliki banyak tempat-tempat kehidupan malam dengan bermacam-macam harga dan rasa. Sebagai pusat berbagai macam kafe dan restoran yang terbaik ada di Ujung Selatan Kemang dimana anda dapat menjumpai bermaca-macam jenis msakan dari Brazil, Italia dan Jepang bahkan sampai ke Turki. Untuk makan malam yang berbeda, cobalah Café Tenda di Semanggi di pusat kota. Tempat ini terkenal akan café jalannya yang didesain secara inovatif dan meiliki rasa yang lezat untuk menarik para pelanggan. Apabila anda ingin berdansa, Jakarta memiliki ratusan diskotek dan temapt hiburan malam. Sebagian besar hotel memiliki bar atau diskotek, sementara yang paling terkenal di dunia salah satunya adalah “ Tanamur “ sebagai tempat yang paling dipadati di pulau yang paling padat penduduknya.

Klub Malam

MILLENIUM
Entertainments - Night Clubs
Plaza Gajah Mada 4th & 5th Floor No.19-26 Central Jakarta

HAILAI INTERNASIONAL
Entertainments - Night Clubs
Taman Impian Jaya Ancol, Jl. Lodan Timur V/16 North Jakarta

1001
Entertainments - Night Clubs
Plaza Hayam Wuruk I, 4th Floor West Jakarta

JAKARTA JAKARTA
Entertainments - Night Clubs
Jl. Raya Mangga Besar No.91/DE West Jakarta

KLAB ASEMKA
Entertainments - Night Clubs
Jl. Asemka 1-5 West Jakarta

KHARISMA MANDIRI
Entertainments - Night Clubs
Jl. Hayam Wuruk No.1001 West Jakarta

LIDO ORIENTAL
Entertainments - Night Clubs
Mal Citraland 6th & 7th Floor West Jakarta

MILLES
Entertainments - Night Clubs
Lokasari Plaza 4th Floor Jl. Mangga Besar 81 West Jakarta

OLIMPIC
Entertainments - Night Clubs
Lokasari A 41 Jl. Mangga Besar 81 West Jakarta

SYDNEY 2000
Entertainments - Night Clubs
Plaza Glodok Jaya 9th Floor Jl. Pinangsia West Jakarta

Golden Crown
Entertainments - Night Clubs
Plaza Glodok 8th Floor Jl. Pinangsia West Jakarta

VELVET JAKARTA
Entertainments - Night Clubs
Plaza Blok M 8th Floor Jl. Bulungan 76 South Jakarta

PONDOK INDAH
Entertainments - Night Clubs
Jl. Metro Pondok Indah No.1 South Jakarta

ANTENA
Entertainments - Night Clubs
Kali Besar West Jakarta

GUDANG BATAVIA
Entertainments - Night Clubs
West Jakarta

Diskotik

DRAGON PLACE INT
Entertainments - Discotheques
Jl. Kelapa Gading Medeterania Blok AA No.7,8,9 North Jakarta

BLACK STEER
Entertainments - Discotheques
Mal Ambasador Lt.3,Jl prof.dr.satrio No.15 Casabalanca South Jakarta

ROYAL REGAL
Entertainments - Discotheques
hotel Royal Regal, Jl Mangga Besar VIII No.25-27 West Jakarta

LAS VEGAS
Entertainments - Discotheques
Gedung landmark Lt. Dasar ,Jl Jend Sudirman No.1 South Jakarta

CAHAYA BARU
Entertainments - Discotheques
Jl. Tiang Bendera II No.84 West Jakarta

CAT'S
Entertainments - Discotheques
Jl. Panglima Polim Raya No.11 Rt.002/08 South Jakarta

ZEN
Entertainments - Discotheques
Plaza ATD Jl. M.H. Thamrin Kav. 3 8th Floor Central Jakarta

GUDANG
Entertainments - Discotheques
Jl. Kali Besar Barat 47 West Jakarta

KALIBER KLUB
Entertainments - Discotheques
Jl. Kali Besar Barat 22 West Jakarta

MILLE
Entertainments - Discotheques
Jl. Mangga Besar Raya 81 West Jakarta

RAJA MAS
Entertainments - Discotheques
Jl. Hayam Wuruk No.100 5th Floor West Jakarta

STADIUM
Entertainments - Discotheques
Jl. Hayam Wuruk No.111 / HH-II-JJ West Jakarta

SYDNEY 2000
Entertainments - Discotheques
Plaza Glodok Jaya 9th Floor West Jakarta

GRAND MANHATTAN
Entertainments - Discotheques
Jl. Lapangan Banteng Selatan Central Jakarta

HARD ROCK CAFÉ
Entertainments - Discotheques
Jl. M.H. Thamrin No.11 Central Jakarta

1001
Entertainments - Discotheques
Jl. Hayam Wuruk 108 West Jakarta

MILLENIUM
Entertainments - Discotheques
Plaza Gajah Mada 5th and 6th Floor Central Jakarta

NEW STARDUST
Entertainments - Discotheques
Sarinah Bldg 14th Floor Jl. M.H. Thamrin 11 Central Jakarta

TANAMUR
Entertainments - Discotheques
Jl. Tanah Abang Timur No.14 Central Jakarta

THE MUSIC ROOM
Entertainments - Discotheques
Central Jakarta

Kafe & Musik Band

1001
Entertainments - Live Musics
Plaza Hayam Wuruk H 4th Floor, Jl. Hayam Wuruk West Jakarta

BLACK STEER
Entertainments - Live Musics
Mal Ambasador Lt.3,Jl prof.dr.satrio No.15 Casabalanca South Jakarta

GALERI TC
Entertainments - Live Musics
Jl.Kemang Raya No.24 Jak-sel South Jakarta

KLUB 45
Entertainments - Live Musics
Jl. Mahakam 1 No.17 Kebayoran Baru South Jakarta

THE GOLDEN MEMORIES
Entertainments - Live Musics
JL.Ampera Raya No.11, Rt 001/09. South Jakarta

THE EMBASSY JAKARTA
Entertainments - Live Musics
Jl. Gedung EastEnd Lt.2 & 3 Komp Taman Ria Senayan Central Jakarta

HARD ROCK CAFE
Entertainments - Live Musics
Jl. Thamrin - Sarinah Building Phone : 021-6128811 - Jakarta

JAMZ
Entertainments - Live Musics
Jl. Garnisun Dalam 8 Phone 021-5745670 - Jakarta

MATA BAR
Entertainments - Live Musics
Jl. Jend. Sudirman Kav. 31 Phone : 021-5710064 - Jakarta

FASHION CAFE
Entertainments - Live Musics
Jl. Jend. Sudirman - Wisma BNI Phone : 021-5744488 - Jakarta

CLASSIC ROCK
Entertainments - Live Musics
Jl. Faleten I No. 12 Phone : 021-7521308 - Jakarta

JJS
Entertainments - Live Musics
Jl. Tanah Abang Timur 16 Phone : 021-3580720 - Jakarta

BLUEPRINTS BAR
Entertainments - Live Musics
Jl. S. Parman Kav. 93-94 Phone : 021-56960888 - Jakarta

BARBADOS
Jl. Kemang Raya 68 Phone : 021-7199346 - Jakarta

BBs
Jl. Sidoarjo 1 Menteng Phone : 021-331890 - Jakarta

Read more...

Prambanan, Candi Hindu Tercantik di Dunia

>> Sabtu, November 01, 2008

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Ada sebuah legenda yang selalu diceritakan masyarakat Jawa tentang candi ini. Alkisah, lelaki bernama Bandung Bondowoso mencintai Roro Jonggrang. Karena tak mencintai, Jonggrang meminta Bondowoso membuat candi dengan 1000 arca dalam semalam. Permintaan itu hampir terpenuhi sebelum Jonggrang meminta warga desa menumbuk padi dan membuat api besar agar terbentuk suasana seperti pagi hari. Bondowoso yang baru dapat membuat 999 arca kemudian mengutuk Jonggrang menjadi arca yang ke-1000 karena merasa dicurangi.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Memasuki candi Siwa yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, anda akan menemui 4 buah ruangan. Satu ruangan utama berisi arca Siwa, sementara 3 ruangan yang lain masing-masing berisi arca Durga (istri Siwa), Agastya (guru Siwa), dan Ganesha (putra Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai arca Roro Jonggrang dalam legenda yang diceritakan di atas.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti 'terbit' atau 'bersinar', biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Kemampuan menyelamatkan itu yang dikagumi oleh banyak orang sampai sekarang dan digunakan untuk berbagai kepentingan. Indonesia menggunakannya untuk lambang negara. Konon, pencipta lambang Garuda Pancasila mencari inspirasi di candi ini. Negara lain yang juga menggunakannya untuk lambang negara adalah Thailand, dengan alasan sama tapi adaptasi bentuk dan kenampakan yang berbeda. Di Thailand, Garuda dikenal dengan istilah Krut atau Pha Krut.

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Sama seperti sosok Garuda, Kalpataru kini juga digunakan untuk berbagai kepentingan. Di Indonesia, Kalpataru menjadi lambang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Bahkan, beberapa ilmuwan di Bali mengembangkan konsep Tri Hita Karana untuk pelestarian lingkungan dengan melihat relief Kalpataru di candi ini. Pohon kehidupan itu juga dapat ditemukan pada gunungan yang digunakan untuk membuka kesenian wayang. Sebuah bukti bahwa relief yang ada di Prambanan telah mendunia.

Kalau cermat, anda juga bisa melihat berbagai relief burung, kali ini burung yang nyata. Relief-relief burung di Candi Prambanan begitu natural sehingga para biolog bahkan dapat mengidentifikasinya sampai tingkat genus. Salah satunya relief Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) yang mengundang pertanyaan. Sebabnya, burung itu sebenarnya hanya terdapat di Pulau Masakambing, sebuah pulau di tengah Laut Jawa. Lalu, apakah jenis itu dulu pernah banyak terdapat di Yogyakarta? Jawabannya silakan cari tahu sendiri. Sebab, hingga kini belum ada satu orang pun yang bisa memecahkan misteri itu.

Nah, masih banyak lagi yang bisa digali di Prambanan. Anda tak boleh jemu tentunya. Kalau pun akhirnya lelah, anda bisa beristirahat di taman sekitar candi. Tertarik? Datanglah segera. Sejak tanggal 18 September 2006, anda sudah bisa memasuki zona 1 Candi Prambanan meski belum bisa masuk ke dalam candi. Beberapa kerusakan akibat gempa 27 Mei 2006 lalu kini sedang diperbaiki.

Read more...

Monumen Nasional (MONAS)

>> Jumat, September 05, 2008


Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Sejarah

Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade 1961an.
Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung ke sini.

Konstruksi dan Pameran

Bentuk Tugu peringatan yang satu ini sangat unik. Sebuah batu obeliks yang terbuat dari marmer yang berbentuk lingga yoni simbol kesuburan ini tingginya 132 m. Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang berbentuk nyala obor perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35kg. Lidah api atau obor ini sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Pelataran puncak dengan luas 11x11 dapat menampung sebanyak 50 pengunjung. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Arah ke selatan berdiri dengan kokoh dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil berserakan. Bila menoleh ke Barat membentang Bandara Soekarno-Hatta yang setiap waktu terlihat pesawat lepas landas.
Dari pelataran puncak, 17 m lagi ke atas, terdapat lidah api, terbuat dari perunggu seberat 14,5 ton dan berdiameter 6 m, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Pelataran puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang berarti melambangkan Bangsa Indonesia agar dalam berjuang tidak pernah surut sepanjang masa. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 m dan ruang museum sejarah 8 m. Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45x45 m, merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).
Pengunjung kawasan Monas, yang akan menaiki pelataran tugu puncak Monas atau museum, dapat melalui pintu masuk di seputar plaza taman Medan Merdeka, di bagian utara Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.
Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia. Melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung ke tugu puncak Monas yang berpagar "Bambu Kuning". Landasan dasar Monas setinggi 3 m, di bawahnya terdapat ruang museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80x80 m, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang.
Pada keempat sisi ruangan terdapat 12 jendela peragaan yang mengabdikan peristiwa sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. Keseluruhan dinding, tiang dan lantai berlapis marmer. Selain itu, ruang kemerdekaan berbentuk amphitheater yang terletak di dalam cawan tugu Monas, menggambarkan atribut peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kemerdekaan RI, bendera merah putih dan lambang negara dan pintu gapura yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam bangunan Monumen Nasional ini juga terdapat museum dan aula untuk bermeditasi. Para pengunjung dapat naik hingga ke atas dengan menggunakan elevator. Dari atau Monumen Nasional dapat dilihat kota Jakarta dari puncak monumen. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.

Read more...

National Museum


History and Aims

On April 24, 1778, a group of Dutch intellectuals established a scientific institution under the name Bataviaasch Genotschap van Kunsten en Wetenschappen, (Batavia Society for Arts and Science). This private body had the aim of promoting research in the field of arts and sciences, especially in history, archaeology, ethnography and physics, and publish the various findings.
One of the founders - JCM Radermacher - donated a building and a collection of cultural objects and books, which were of great value to start off a museum and library for the society. Due to the growing collections, General Sir Thomas Stamford Raffles built a new premises on Jalan Majapahit No. 3 at the beginning of the 19th century and named it the Literary Society. In the 1862 the Dutch East Indian government decided to build a new museum that would not only serve as an office but also could be used to house, preserve and display the collections.
The Museum was officially opened in 1868 and became known as Gedung Gajah (Elephant House) or Gedung Arca (House of Statues). It was called Gedung Gajah on account of the bronze elephant statue in the front yard donated by King Chulalongkorn from Thailand in 1871. It was also called Gedung Arca because a great variety of statues from different periods are on display in the house.
On February 29, 1950 the Institution became the Lembaga Kebudayaan Indonesia (Indonesian Culture Council) and on September 17, 1962 it was handed over to the Indonesian government and became the Museum Pusat (Central Museum). By decree of the Minister of Education and Culture No. 092/0/1979 of May 28, 1979 it was renamed the Museum Nasional. The Museum Nasional is not only a centre for research and study into the national and cultural heritage, but also functions as an educative, cultural and recreational information centre.
Currently the Musium Nasional houses collections of 109,342 objects under the categories of prehistory, archaeology, ethnography, numismatics-heraldic, geography and historical relics.

In 1994, the museum started with is expansion project. The new building, constructed in the same architectural style as the old, comprises an arena for theatrical performances and more spaces for exhibitions. The building is scheduled for completion this year.

Opening Times:
The Musium Nasional is open from 8.30 am to 2.30 pm on Tuesday, Wednesday, Thursday and Sunday; from 8.30 am to 11.30 am on Friday; and from 8.30 am to 1.30 pm on Saturday.
The Museum is closed on Monday.

Admission charges:

Adults - Rp750
Children under 17 years and students - Rp250

Gift shop:

A small gift shop located in the entrance hall has the same opening hours as the rest of The Museum. It offers a selection of books, postcards and reproductions of various exhibits.

Parking:

The Museum is situated on jalan Merdeka Barat. The front courtyard can accommodate cars and tour buses.

Tours:

The Indonesian Heritage Society conducts tours of the Museum at the following times
English: Tuesday, Wednesday and Thursday 9.30 am & LAST SUNDAY of every month at10.30 am
Japanese: Tuesday 10 am and FIRST SUNDAY of every month at 10 am
German: Thursday 10 am
The times and dates of guided tours in Dutch and French can be obtained by telephoning the Indonesian Heritage Society Office at Musium Nasional on (62-21) 381 1551 extension 46
Visitors are kindly asked to refrain from smoking, eating and drinking in all areas of the Museum, and are prohibited from touching the exhibits.


Read more...

Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah)



Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi.

Gedung ini dulu adalah Stadhuis atau Balai Kota, yang dibangun pada tahun 1707-1710. Bangunan balaikota itu serupa dengan Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Pada tanggal 30 Maret 1974, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.


Arsitektural

Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya Barok klasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.
Museum ini memiliki luas lebih dari 13.000 meter persegi.
Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam dihiasi beberapa pohon tua.


Koleksi Museum

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes(menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.
Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda. Bagunan megah yang terletak di Jalan Fatahillah No. 1 ini sejak 1973 telah dipugar dan dijadikan museum Jakarta. Sebelumnya, pada dari tahun 1963 – 1972 gedung ini digunakan sebagai markas TNI dan Kodim 0503.

Gedung ini pernah digunakan sebagai gedung balai kota Batavia (standhuis) pada tahun 1710. Gedung balai kota bergaya abad 18 ini dibangun dengan arsitektur yang serupa dengan dengan Istana Dam di Amsterdam. Maklum saja, saat itu Batavia masih dikuasai Belanda.
Seperti bangunan Eropa lainnya, bangunan balaikota terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di Timur dan Barat dengan bangunan sandingan yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan dan lain-lain. Bangunan ini memiliki ruangan bawah tanah yang dipakai sebagai penjara, menghukum orang-orang yang melanggar atau melakukan tindakan pidana, hutang piutang dan lain-lain. Selain itu, standhuis juga dipakai untuk penyiksaan dan pelaksanaan hukuman termasuk hukuman gantung.

Sebelum diberi nama Museum Jakarta seperti sekarang, museum ini pernah dinamai Museum Oud Batavia atau Museum Batavia Lama yang terletak di Jl Pintu Besar Utara No.27, yang saat ini digunakan sebagai Museum Wayang. Di dalam bangunan ini kini tersimpan beberapa peninggalan sejarah perjalanan kota Jakarta (Batavia) seperti kapak batu, cawan gerabah, prasasti Tugu, Meriam Si Jaguar, lukisan Jan Pieterszoon Coen asal Hoorn (Belanda), satu set batu timbangan mata uang Real, seperangkat meja dan kursi yang digunakan oleh Dewan Pemerintahan Hindia Timur.
Bila Anda tertarik untuk lebih jauh mengenal kota Jakarta, Anda juga bisa berkunjung ke Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta di lokasi yang sama. Perpustakaan ini memiliki sekitar 12.000 buku-buku bersejarah. Beberapa buku koleksi perpustakaan antara lain, sebuah Alkitab tahun 1702, buku-buku karangan Francois Valentijn dari tahun 1726, catatan harian dari Kastil tahun 1628 sampai 1629 saat perang Mataram di Jakarta, dan banyak lagi. Lelah mengitari Museum Jakarta, Anda bisa istirahat sejenak di halaman belakang Museum atau di Tamanan Fatahillah yang terletak tepat di depan museum. Bila ingin bersantai di café, Anda bisa memilih Café Museum di sayap kanan gedung (gedung museum) atau Café Batavia di seberang Taman Fatahillah.

Fasilitas
* Perpustakaan
Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa diantaranya bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702.

* Kafe Museum
Kafe Museum dengan suasana nyaman bernuansa Jakarta ‘’tempo doeloe’’, menawarkan makanan dan minuman yang akrab dengan selera anda.

* Souvenir Shop
Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung yand dapat diperoleh di souvenir shop dengan harga terjangkau.

* Musholla
Anda tidak perlu khawatir kehilangan waktu sholat, karena kami menyediakan musholla dengan perlengkapannya.

* Ruang Pertemuan dan Pameran
Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang.

* Taman Dalam
Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk resepsi pernikahan.

Waktu Buka
Selasa sampai Minggu jam 09.00 - 15.00 WIB
Hari Senin dan Hari Besar Tutup

Harga Tanda Masuk
Dewasa Rp. 2000
Mahasiswa Rp. 1000
Pelajar/Anak Rp. 600
Rombongan Dewasa Rp. 1500
Rombongan Mahasiswa Rp. 750
Rombongan Pelajar/Anak Rp. 500
Rombongan minimal 20 orang.
Alamat Museum Sejarah Jakarta
Jl. Taman Fatahillah No. 1 Jakarta Barat

Read more...

  © Blogger template Selamat Hari Raya Aidilfitri by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP